-
Eric Legome and Lee W. Shockley (2011)
-
James G Adams (2013)
-
Mistovich (2014)
-
Susan L Woods et al (2010)
-
S.V Mahadevan, Gus M. Garmel
-
Cynthia Lee Terry and Aurora Weaver
-
Paula Derr, Mike McEvoy, Jon Tardiff, Paramedic
-
Jennifer R. Buettner
-
David A. Farcy, William C. Chiu, Alex Flaxman, John P. Marshall
-
Edited by Tim Nutbeam and Matthew Boylan
Wiley Blackwell
-
Paul Ellis Marik
-
“Pengembangan Self Management Pada Pelayanan Kesehatan”
-
“Midwives Leading The Way with Quality Care”
-
"Translating nursing and health science research into evidence-based practice in achieving SDGs"
-
Rumah sakit dalam menjalankan fungsinya sebagai wadah pelayanan kesehatan modern menjunjung tinggi
prinsip keselamatan sebagai hal yang fundamental. Upaya yang dapat dilakukan dalam peningkatan mutu
pelayanan kesehatan adalah dengan budaya keselamatan pasien merupakan sebuah aspek yang menentukan
kualitas pelayanan sebuah institusi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran Patient Safety
Culture pada perawat Unit Rawat jalan dan Rawat Inap tahun 2018 di rumah Sakit Jantung Wilayah Jakarta,
dilihat dari 12 Dimensi Budaya Keselamatan Pasien menurut AHRQ. Penelitian ini menggunakan metode
kuantitatif dengan desain cross-sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 384 responden. Hasil dari
penelitian ini menunjukkan bahwa gambaran budaya keselamatan pasien secara keseluruhan adalah sebesar
67,8% yang dikategorikan dalam budaya keselamatan yang sedang, diharapkan dapat meneruskan dan
mempertahankan program-program keselamatan pasien yang telah berjalan, monitoring dan evaluasi, serta
melakukan pengukuran budaya keselamatan pasien secara menyeluruh dan periodik.
-
Rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang lain seyogianya mempertimbangkan bahwa
asuhan yang diberikan kepeda pasien merupakan bagian dari suatu sistem pelayanan yang
terintegrasi dengan para profesional pemberi asuhan dan tingkat pelayanan yang akan
membangun suatu kontinuitas pelayanan. Kontinuitas pelayanan dapat dimaknai bahwa
asuhan kepada pasien diberikan sejak pasien masuk ke fasilitas kesehatan sampai dia
kembali ke rumahnya. Profesional pemberi asuhan utamanya perawat harus memastikan
bahwa pasien yang dikelolanya mampu untuk memahami konndisi dirinya sendiri
termasuk memahami kapan membutuhkan bantuan tenaga kesehatan professional. Lebih
jauh lagi diharapkan pasien mampu melakukan pengeloaan diri dan memenuhi kebutuhan
diri mereka sendiri ketika di rumah. Kemampuan pasien dalam mengelola diri sendiri
sehingga dapat memenuhi kebutuhan dirinya tersebut dinamakan self management yang
selanjutnya disebut manajemen diri.
-
Kegiatan sehari-hari di pondok pesantren sangat padat membuat mahasiswi menjadi stres yang dapat
menyebabkan terjadinya masalah kesehatan jiwa. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan masalah
kesehatan jiwa mahasiswi yang tinggal di pondok pesantren Al Husna. Desain penelitian ini yaitu deskriptif
dengan pendekatan survei. Terdapat 165 responden yang telah dipilih menggunakan teknik simple random
sampling. Masalah kesehatan jiwa mahasiswi diukur menggunakan Self Reporting Questionaire (SRQ). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa mahasiswi di pondok pesantren Al Husna yang mengalami masalah kesehatan
jiwa sebanyak 46,7% dan mahasiswi yang tidak mengalami masalah kesehatan jiwa sebanyak 53,9%. Penelitian
ini menunjukkan bahwa hampir separuh mahasiswi yang tinggal di pondok pesantren Al Husna mengalami
masalah kesehatan jiwa. Manajemen stres perlu diajarkan kepada mahasiswi di pondok pesantren Al Husna
untuk mencegah terjadinya masalah kesehatan jiwa.
-
Eclampsia remains to be among the two top main causes of direct maternal death and disability
in the Philippines. Eclampsia is defined as new onset of grand mal seizure activity and/or
unexplained coma during or after the 20th week of gestation or postpartum in a woman with
signs or symptoms of preeclampsia. However, eclampsia can occur even in the absence of
hypertension with proteinuria based on a study in the UK. Similarly, hypertension was absent in
some cases of eclampsia in a review done in the United States.
Most cases of eclampsia presents in the third trimester of pregnancy, with about 80% of
eclamptic seizures occuring intrapartum or within the first 48 hours following delivery. Early
detection of preeclampsia is important to identify its clinical manifestations like hypertension
and proteinuria and even some coexisting systematic abnormalities involving the kidneys, liver
or blood. The fetal manifestations of preeclampsia are fetal growth restriction, reduced amniotic
fluid, and abnormal fetal oxygenation.
Delivery of the fetus is the only cure for severe preeclampsia. Magnesium sulfate (MgSO4) for
seizure prophylaxis, antihypertensive management, induction of labor or cesarean section are
treatment options. Although delivery is appropriate for the mother, it may not be optimal for
the premature fetus. Antenatal corticosteroid injection given to the mother promotes lung
maturity of the preterm fetus.
In the Philippines the use of MgS04 is the mainstay in the treatment of eclamptic convulsion and
for seizure prophylaxis for severe preeclampsia. Injection of a loading dose of MgSO4 is among
the signal functions of Basic Emergency Obstetrics and Newborn Care (BEmONC) for those
practicing in areas remote from the hospital. The use of this life saving drug by midwives is
guided by a Philippine Department of Health Administrative Order (DOH A.O. No. 0020-2015).
However, the DOH A.O. specifies that the drug should be given by a midwife who is trained on
its use, the presence of an obstetrical emergency that warrants it and that there is no doctor.
Because the Midwifery Act of 1992 regulates midwifery practice that focuses on normal
pregnancy, labor and childbirth, a standing order by the back-up doctor in a health facility is
required. MgSO4 injected to the mother is also known to provide neuroprotection to the
newborn baby.
-
This proceeding includes the written version of contributions presented and the process of event
during the 3rd of International Nursing & Health Science Student & Health Care Professional
Conference 2019 (INSHP 2019). This program was conducted in Novotel Hotel Makassar-Indonesia
from November 6 to 7, 2019.
The conference offered and provided a setting for presenting and discussing recent issues, topics, and
developments in variety of themes including health promotion & disease prevention; patient centred
care; specialty nursing; transcultural nursing; global health nursing; health care system & policy;
information & communication technology; and interprofessional education. This conference gave
excellent chances for speakers and participants who come from the United Kingdom (the UK),
Australia, Japan and some areas and provinces in Indonesia to present and to discuss topics in their
expertise and interested research areas.
The brief session of presentations on themes “Translating nursing and health science research into
evidence-based practice in achieving SDGs”, has been highly appreciated for the efforts of keynote
speakers in presenting their ideas and sharing their knowledge in lively and interesting ways. Huge
appreciation is also given to the facilitators for sharing the materials in the Workshop of Writing for
International Publication in accessible and interactive methods.
We would like to thank very much all the participants for their contribution to the Conference Program
and to this Proceeding. Many thanks to the Indonesian participants and the committee for their
support and hospitality, in which the overseas participants to feel home in Makassar-Indonesia.
Sincerely thanks are also expressed to all the reviewers of abstract for their help by commenting and
giving their feedback to get better version of abstract to be published in this proceeding.
We are also pleased to aknowledge the informational support from the reviewer of the Conference
Program and the financial support from Hasanuddin University (UNHAS). Additionally, thank to all the
support given by the other education and health services institutions such as University of SalfordManchester, La Trobe University- Australia, The University of Newcastle-Australia, and Komatsu
University-Japan. The most importantly, we would like to acknowledge our countless thanks to our
God who always gives all the best of this life.
We are looking forward to the next conference of nursing and health science that will be held in
Makassar. We hope it will be an interesting and beneficial event for all participants
-
-
Arus globalisasi sudah tidak terbendung lagi masuk ke Indonesia. Hal ini juga disertai
dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih. Dunia kini memasuki era revolusi
industri 4.0, yakni menekankan pada pola digital economy, artificial intelligence, big
data, robotic, dan lain sebagainya yang dikenal dengan fenomena disruptive
innovation. Perkembangan era industri 4.0 tidak hanya dalam bidang teknologi ataupun
factory saja, tetapi sudah melingkupi di semua aspek kehidupan.
Perubahan ini sudah pasti berimbas juga bagi industri yang bergerak di bidang
kesehatan termasuk di antaranya adalah perawatan kesehatan. Menghadapi tantangan
tersebut, pelayanan kesehatan pada umumnya dan keperawatan pada khususnya dituntut
untuk berubah ke era digitalisasi guna meningkatkan kualitas pelayanan perawatan
kesehatan untuk optimalisasi derajat kesehatan masyarakat.
Kualitas pelayanan keperawatan sangat menentukan pencapaian peningkatan
derajat kesehatan baik dalam pelayanan di rumah sakit. Peningkatan kualitas pelayanan
keperawatan sesuai dengan era revolusi industri 4.0 tidak hanya mengedepankan
perkembangan teknologi, tetapi juga harus mengedepankan biopsikososiokultural dalam
keperawatan. Selain itu, peningkatan kualitas pelayanan ini juga harus didukung sinergi
antara evidence based di klinik dan juga perkembangan iptek dalam pendidikan
keperawatan. Peningkatan keilmuan dalam bidang pendidikan keperawatan harus sejalan
dengan aplikasinya dalam pemberian asuhan keperawatan di rumah sakit ataupun di klinik.
Hal inilah yang mendasari alasan pentingnya pengembangan kualitas keperawatan
sejalan dengan era revolusi industri 4.0 dengan mengedepankan kemitraan dari pendidikan
dan pelayanan keperawatan. Oleh karena itu pada Seminar Nasional Keperawatan kali ini,
kami mengangkat tema terkait “Kolaborasi Pelayanan dan Pendidikan Keperawatan di era
revolusi industri 4.0”.
-
Stunting adalah gangguan pertumbuhan yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu
lama dan ditunjukkan dengan nilai z skor TB/U kurang dari-2 SD. Stunting pada masa anak
merupakan faktor risiko kematian dan menyebabkan rendahnya kemampuan kognitif serta
perkembangan motorik. Faktor yang berhubungan dengan stunting diantaranya adalah faktor ibu,
genetik, asupan makanan dan penyakit infeksi. Studi literatur dilakukan dengan menelusuri artikel
melalui Google Scholar, mulai tahun 2016-2019. Hasil studi menunjukkan bahwa paritas dan
pemberian ASI Eksklusif berhubungan dengan kejadian stunting pada balita. Keluarga yang
memiliki banyak anak dan disertai kondisi ekonomi yang kurang, memiliki risiko lebih besar untuk
memiliki balita stunting karena keluarga tidak dapat memberikan perhatian dan mencukupi
kebutuhan gizi seluruh anaknya. Pemberian ASI eksklusif harus dilakukan karena ASI mengandung
zat gizi dan imunologik yang lengkap sehingga sangat menunjang pertumbuhan dan meningkatkan
daya tahan tubuh. Untuk itu perlu mendorong keluarga untuk mengatur jarak persalinan dan
memiliki bekal pengetahuan dan pemahaman yang cukup agar dapat memberikan ASI secara
eksklusif
-
Dunia saat ini tengah dihadapkan pada krisis global akibat terjadinya pandemi COVID-19.
Bahkan hingga sekarang belum ada kepastian kapan krisis ini akan berakhir. Krisis tersebut
memiliki konsekuensi terhadap kesejahteraan dan hak anak secara global karena anak merupakan
kelompok usia yang rentan terhadap terjadinya krisis. Oleh karena itu diperlukan upaya yang
komprehensif dan melibatkan berbagai stakeholder untuk menjaga hak dan kesejahteraan anak.
Namun demikian, kita melihat bahwa berbagai negara di seluruh dunia termasuk Indonesia tidak
memiliki budget cukup untuk memenuhi hak anak ini terutama untuk domain perlindungan,
kesehatan, dan edukasi. PBB memperkirakan bahwa telah terjadi lonjakan jumlah anak yang dapat
jatuh kedalam tingkat kemiskinan ekstrim akibat krisis ini (Muhyiddin, 2020). Dengan demikian
krisis ini telah mengambalikan waktu ke masa lalu kepada masa awal membangun kesejahteraan
anak. Oleh karena itu diperlukan perhatian yang lebih kuat dari sebelumnya dalam upaya
meningkatkan kesejahteraan dan memenuhi hak anak.
Selain konsekuensi terhadap aspek ekonomi, kebijakan pembatasan sosial dan aktifitas
oleh pemerintah untuk mengendalikan pandemi menimbulkan dampak signifikan pada
kesejahteraan anak (UNICEF, 2020). Penutupan sekolah menjadi tantangan tersendiri dalam dunia
pendidikan di negara berkembang, selain itu dampak buruk krisis pada sektor pendidikan ini juga
membuat anak laki-laki maupun perempuan lebih rentan menjadi pekerja anak dan mengalami
kekerasan pada anak (WHO). Penangguhan program vaksinasi dan program kesehatan di
masyarakat diprediksi akan menyebabkan lonjakan angka kesakitan dan kematian bayi dan anak.
Selain pada anak yang sehat dan sakit, dampak sosial dan kesehatan juga dirasakan lebih berat
pada anak dengan disabilitas dan yang memiliki kebutuhan khusus, karena tanpa adanya krisis
global pun, anak disabilitas atau anak berkebutuhan khusus (ABK) merupakan kelompok anak
yang sangat rentan, sering mendapatkan stigmatisasi, dan termarjinalkan (UNICEF, 2020).
Beban yang dihadapi oleh ABK dapat terjadi pada berbagai aspek terutama aspek
kesehatan, sosial, pendidikan, dan ekonomi (Tirtayani, 2017). Kebijakan physical distancing dan
penutupan sekolah memberi konsekuensi dalam regulasi pelayanan kesehatan dan pendidikan
(Huch & Shmis, 2020). Anak tidak hanya membutuhkan akses terhadap akses internet yang baik
dan ketersediaan buku yang lengkap, tetapi juga sangat membutuhkan alat bantu dan kurikulum
pembelajaran khusus yang dapat terus dilakukan selama pembelajaran di rumah. Anak dengan
kondisi sehat dan sakit juga harus diperhatikan terkait pertumbuhan dan perkembangan yang harus
tetap optimal meski dalam keadaan pandemi. Selain itu, anak dengan kebutuhan khusus juga akan
menghadapi hambatan yang lebih besar dalam akses kesehatan yang selama pandemi ini dibatasi.
Layanan terapi dan konseling yang selama masa normal diikuti oleh ABK dan keluarga menjadi
-
Efikasi mempengaruhi proses berpikir, motivasi dan kondisi perasaan, semuanya berperan terhadap jenis
perfomansi yang dilakukan. Efikasi diri adalah keyakinan individu akan kemampuannya untuk mengatur dan
melakukan perilaku yang mendukung kesehatannya berdasarkan pada tujuan dan harapan yang
diinginkannya.Koping yang efektif adalah koping yang sesuai dengan masalah, situasi, dan stres yang
dihadapi. Penderita penyakit ginjal kronik menjalani terapi hemodialisis yang dilakukan 2 sampai 3 kali
seminggu dengan durasi waktu 4 sampai 5 jam setiap kali hemodialisis. Penelitian ini adalah untuk
mengetahui hubungan efikasi diri dengan mekanisme koping pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani
hemodialisis di RSMH. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatancross sectional. Pemilihan
sampel pada penelitian ini menggunakan purposivesampling dengan jumlah sampel sebanyak 99 pasien gagal
ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Hasil analisis uji Fisher’s Exact didapatkan p-value 0,04 (p<0,05).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara efikasi diri dan mekanisme
koping pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis.
-
“Demographic Dividend” are two combined words increasingly known these days. The
term of demographic dividend is simply defined as a condition when a country have the number of
people within the productive age bracket (15-64) is higher than the number of non-productive
group (0-14 and above 65). While dividend means an amount of money added to wages on a
seasonal basis, especially as reward for good performance. So it means when demographic
dividend occurs, a country will receive “bonus” or revenue in form of economic growth as the
working population are larger than the non-working group.
It is evident that human resource has critical contribution for reaping demographic
dividend. Qualified human resources are required in order to make sure that the state have adequate
professionals with a good job and salary in order to contribute for country’s revenue. Creating
qualified human resource is a long-life process that involved multi-sectoral contribution, including
health sector.
In health sector, it is well understood that the individual quality is formed and processed
since childhood. Various factors influence this irreversible process, such as nutrition, health status,
health facility, and macro environment (economy, knowledge, culture, politic and education).
Knowing this, a holistic cooperation is required even within health sectoral itself. Hoping that it
will give significant contribution and certainty that each individual life is counted, that children can
attend school and well-performed with minor absence. Further, they graduate with skill and get a
job with decent salary. This adequate of professionals then will boost economic growth of a
country.
To take a part in international platform, Faculty of Health Science, Universitas
Pembangunan Nasional Veteran Jakarta would organize the event called “INTERNATIONAL
CONFERENCE ON HEALTH DEVELOPMENT” with the theme “Reaping the benefits of a
Demographic Dividend by Achieving Quality Human Resources through Health Investment”,
that later will accommodate four majors which are Nutrition, Public Health, Nursing and
Physiotherapy.