Analisis Pengelolaan Obat Instalasi Farmasi Rumah Sakit St.Carolus Jakarta Dalam Upaya Efektif Efisien Tahun 2017
Item
Title
Analisis Pengelolaan Obat Instalasi Farmasi Rumah Sakit St.Carolus Jakarta Dalam Upaya Efektif Efisien Tahun 2017
Abstract
ABSTRAK
Berdasarkan data pengelolaan obat Instalasi Farmasi Rumah Sakit St.Carolus
diperoleh gambaran bahwa pada tahun 2016 , indikator efisiensi distribusi yang
dinyatakan dengan TOR (Turn Over ratio ) memperoleh nilai frekwensi 6.2 kali
setahun . Ada ketidakefisienan dalam pengelolaan obat.Tujuan penelitian untuk
memperoleh pengelolaan obat yang efektif dan efisien di Rumah Sakit St.Carolus.
Dilakukan dengan mengevaluasi pengelolaan obat menggunakan siklus managemen
obat, Quick,dkk (2012), dengan empat tahapan yaitu seleksi, pengadaan,
pendistribusian dan penggunaan . Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, data
primer dan data sekunder diperoleh dari dokumentasi, wawancara mendalam dengan
narasumber dan pengamatan dengan menggunakan indikator efisiensi yang
ditetapkan oleh Depkes RI, (2008 ) dan WHO, (1993 ). Hasil penelitian menunjukkan
bahwa Proses Seleksi : Panitia Farmasi dan Terapi dalam melaksanakan tugas belum
optimal, Formularium Rumah Sakit disusun belum mengacu kepada Formularium
Nasional, jumlah jenis obat dan jumlah sediaan meningkat tiga kali lipat lebih
dibandingkan dengan Formularium Nasional, 2015 . Proses Pengadaan : peningkatan
biaya belanja obat 150.45 % dari total 100 % anggran. Proses Distribusi : total
100% persediaan obat pemakaiannya 53%, persediaan mati stok 15% dan kosong
stok 33% . Distribusi rawat inap sudah menggunakan unit dose dispensing di 3 (tiga
) unit rawat inap dengan obat kembali 33% dari total obat kembali , disebabkan
pelaksanaan aturan permintaan obat yang tidak sesuai sistem permintaan resep sistem
unit dose, permintaan obat melihat formulir pemberian obat dosis tunggal harian dan
permintaan obat di luar jam dinas 37% dari 100% total pelayanan sistem unit dose
sispensing . Proses Penggunaan : Penggunaan obat generik 21% dan obat sesuai
Formularium Nasional 32% , Penggunaan obat injeksi 56%. Ketiga nilai indikator
tersebut belum efisien.
Upaya perbaikan menjadi efektif efisien dengan revisi tugas Panitia Farmasi
dan Terapi sesuai standar yang ditetapkan pemerintah , proses penyusunan,
penetapan jenis obat dan jumlah sediaan mengacu kepada Formularium Nasional,
revisi kebijakan Formularium Rumah Sakit sekali setahun, perencanaan anggaran
dilakukan dengan metode yang dapat dipertanggungjawabkan, perbaikan Standar
Prosedur Operasional permintaan obat , dibentuk Tim/Panitia perencanaan untuk
mengembangkan pendekatan sistem distribusi unit dose, evaluasi dan monitoring :
pengelolaan obat , sistem unit dose , penggunaan obat injeksi setiap bulan dan
penggunaan obat generik dan Formularium Nasional pada semua pasien
Kata Kunci : Pengelolaan Obat, Efektif Efisien
Berdasarkan data pengelolaan obat Instalasi Farmasi Rumah Sakit St.Carolus
diperoleh gambaran bahwa pada tahun 2016 , indikator efisiensi distribusi yang
dinyatakan dengan TOR (Turn Over ratio ) memperoleh nilai frekwensi 6.2 kali
setahun . Ada ketidakefisienan dalam pengelolaan obat.Tujuan penelitian untuk
memperoleh pengelolaan obat yang efektif dan efisien di Rumah Sakit St.Carolus.
Dilakukan dengan mengevaluasi pengelolaan obat menggunakan siklus managemen
obat, Quick,dkk (2012), dengan empat tahapan yaitu seleksi, pengadaan,
pendistribusian dan penggunaan . Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, data
primer dan data sekunder diperoleh dari dokumentasi, wawancara mendalam dengan
narasumber dan pengamatan dengan menggunakan indikator efisiensi yang
ditetapkan oleh Depkes RI, (2008 ) dan WHO, (1993 ). Hasil penelitian menunjukkan
bahwa Proses Seleksi : Panitia Farmasi dan Terapi dalam melaksanakan tugas belum
optimal, Formularium Rumah Sakit disusun belum mengacu kepada Formularium
Nasional, jumlah jenis obat dan jumlah sediaan meningkat tiga kali lipat lebih
dibandingkan dengan Formularium Nasional, 2015 . Proses Pengadaan : peningkatan
biaya belanja obat 150.45 % dari total 100 % anggran. Proses Distribusi : total
100% persediaan obat pemakaiannya 53%, persediaan mati stok 15% dan kosong
stok 33% . Distribusi rawat inap sudah menggunakan unit dose dispensing di 3 (tiga
) unit rawat inap dengan obat kembali 33% dari total obat kembali , disebabkan
pelaksanaan aturan permintaan obat yang tidak sesuai sistem permintaan resep sistem
unit dose, permintaan obat melihat formulir pemberian obat dosis tunggal harian dan
permintaan obat di luar jam dinas 37% dari 100% total pelayanan sistem unit dose
sispensing . Proses Penggunaan : Penggunaan obat generik 21% dan obat sesuai
Formularium Nasional 32% , Penggunaan obat injeksi 56%. Ketiga nilai indikator
tersebut belum efisien.
Upaya perbaikan menjadi efektif efisien dengan revisi tugas Panitia Farmasi
dan Terapi sesuai standar yang ditetapkan pemerintah , proses penyusunan,
penetapan jenis obat dan jumlah sediaan mengacu kepada Formularium Nasional,
revisi kebijakan Formularium Rumah Sakit sekali setahun, perencanaan anggaran
dilakukan dengan metode yang dapat dipertanggungjawabkan, perbaikan Standar
Prosedur Operasional permintaan obat , dibentuk Tim/Panitia perencanaan untuk
mengembangkan pendekatan sistem distribusi unit dose, evaluasi dan monitoring :
pengelolaan obat , sistem unit dose , penggunaan obat injeksi setiap bulan dan
penggunaan obat generik dan Formularium Nasional pada semua pasien
Kata Kunci : Pengelolaan Obat, Efektif Efisien
list of authors
DR.dr.Grace Sabrina Rumengan, MARS
Rachmad,S.Sos, MARS
dr. Veronica E.A.A. Felnditi, MARS
Rachmad,S.Sos, MARS
dr. Veronica E.A.A. Felnditi, MARS
Date
20 November 2017